Cerpen : Derita Anak Jalanan

Derita Anak Jalanan

Oleh : Galih Ihza Mahendra

Selalu ada cerita dibalik tawa , dan selalu ada makna dibalik derita

derita anak jalanan

Suatu malam menjelang idul fitri , ada seorang anak laki-laki yang telah kehilangan kedua orang tuanya . Ia tinggal di sebuah gubuk reot yang tersusun dari kardus- kardus dibawah jembatan tol. Ia harus menghudupi adiknya yang sedang sakit dan harus rela berkorban menyusuri jalanan kota untuk menjual koran.

“ Koran koran , korane pak .. sewu sewu “

Ia tidak memiliki baju yang layak pakai, hanya menggunakan pakaian yang sudah kumal dan compang camping. Ia mendapat pakaian dari tempat tempat pembuangan yang telah dibuang oleh orang orang yang tidak membutuhkan pakaian itu lagi, tetapi baginya mensyukuri apa yang ia peroleh adalah anugerah terbesar Tuhan.

Sudah dua jam ia menjual koran, tapi tak satupun koran itu laku terjual dan tidak ada orang yang memperdulikannya. Hari semakin siang dia tidak dapat menjual selembar koran pun , dengan keadaan lelah dan lapar , ia bersandar di tiang lampu bangjo. Ia melihat rumah besar di pinggir jalan raya dimana pada rumah tersebut terlihat keluarga yang berkumpul, bercanda,  dan bahagia bermain bersama. Kebahagiaan diperoleh dari kebersamaan itu, tapi tidak dengannya. Melihat kebersamaan itu ia teringat ketika ia masih bersama ibu, ayah,kakek, dan neneknya. Tetapi semua telah meninggal dan hanya tinggal dia dan adiknya. Memikirkan kenangan itu ia sampai meneteskan air mata. Sambil menangis ia melanjutkan berjualan koran, tiba tiba ada sebauh mobil yang hampir menabraknya. Ia terjatuh dan semua koran itu jatuh kedalam selokan. Semua koran itu pun kotor, tidak mungkin ia akan menjualnya lagi. Dengan rasa sakit ia terjatuh, kemudian ia menangis karena teringat adiknya yang sakit dirumah sendirian , apalagi ia tidak bisa membelikan adiknya obat. Ya karena tadi , ia tidak dapat uang dari koran itu.

Sambil berjalan pulang. Ia melihat sebuah panti asuhan. Terlihat banyak anak-anak yabg sudah tidak mempunyai orang tua namun bahagia disana. Ia berfikir apakah sebaiknya ia menitipkan adiknya disana, tetapi ia juga tidak tega karena adik satu-satunya. Teapi mau apalagi dia harus lakukannya demi kebahagiaan adiknya itu. Ia menghampiri panti asuhan itu. Nampak seorang ibu pengasuh menghampiri dan menanyainya.

“kenapa kamu nak ? ayo ikut ibu kedalam! “

“ tidak perlu buk terima kasih .. bu bolehkah saya menitipkan adik saya disini, saya tidak mau adik saya menderita tinggal bersamam saya “

“ memang kamu tinggal dimana nak ? “

“ di bawah jembatan tol gayam bu.. “

“ baik, kamu boleh menitipkan adik kamu disini , tapi bagaimana dengan mu nak ?”

“  biarlah dengan saya, saya tidak apa-apa yang penting adik saya bahagia disini “

Hari sudah mulai sore. Ia harus segera membawa adiknya ke panti asuhan itu. Ia berjalan langkah demi langkah menggendong adiknya sampai ke panti asuhan. Setelah tiba di panti asuhan ia meminta satu permintaan lagi kepada ibu pengasuh untuk membawa adiknya ke dokter. Dengan senang hati ibu pengasuh tersebut mengiyakan permintaannya. Hatinya lega dan senang , dia tidak perlu memikirkan adiknya lagi, karena adiknya sudah bahagia bersama teman teman lain dipanti asuhan. Ia meninggalkan adiknya tanpa ucapan selamat tinggal.

Hari mulai malam, terdengar suara takbir berkumandang.

“ Allahu akbar , Allahu akbar, Allahu akbar .. laailahaillallahuallahu akbar.. allahu akbar walilla ilham “

Ia menagis teringat kenangan saat berkumpul bersama keluarga saat malam takbiran. Ia berhenti, duduk bersandar di bawah lampu  jalan. Ia sangat lelah dan sangat lapar. Ia beristirahat sejenak seolah-olah sedang menghangatkan badan di malam yang dingin itu. Ia melihat keatas, ia merasa melihat ibunya yang sangat ia rindukan. Seakan-akan ia melompat ke pelukan hangat ibunya untuk mengobati rasa rindunya itu.

“ ibu.. tolong bawa aku ke tempat yang hangat dan banyak makanan”

Mereka terbang makin lama makin tinggi makin jauh pergi ke tempat yang hangat dan tidak akan merasa lapar lagi.
Keesokan harinya , hari raya idul fitri tiba. Orang-orang yang sudah selesai mengerjakan solat id melihat anak malang itu sedang bersandar dibawah lampu jalan. Wajah mungilnya terlihat pucat dengan senyuman yang terlihat bahagia, tetapi ia sudah meninggal, meninggal di malam idul fitri. Ia sudah di jemput Tuhan dan dibawa ke tempat yang indah, damai, hangat, dan tanpa merasa lapar lagi. Ia abadi disana. Ia akan bahagia selamanya disana bersamam Ayah, Ibu, Kakek , dan Neneknya.

Advertisements

One thought on “Cerpen : Derita Anak Jalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s